|
Mencari Ayat Hingga ke Ayasofya |
|
|
|
|
Written by Zacky Khairul Umam
|
|
Saturday, 11 May 2013 08:56 |
|
Etimologi “Dewan Perwakilan Rakyat (DPR)” semuanya datang dari Timur Tengah. “Dewan” yang artinya “lembaga pemerintahan tertinggi” dulunya berasal dari kebudayaan Persia, sementara “Wakil” dan “Rakyat” (yang diberi pengayoman) dari kebudayaan Arab.
Mungkin kini kita tak lagi menganggap simbol dan bahasa di Senayan asing. Kata-kata “musyawarah-mufakat”, “ayat”, “konstitusi”, “adil”, “sejahtera”, “beradab”, dan seterusnya sudah jadi sangat lokal, sangat vernakuler Indonesia. Bahasa politik di senayan, juga Bahasa Indonesia umumnya, kalau kita cermati bermuasal dari bahasa suci agama-agama yang datang ke Indonesia. Selain bahasa lokal, ada bahasa dewa Sansakerta, ada bahasa penyair-ulama dari Arab dan Persia, juga para penyebar Gospel sejak zaman penjelajahan kolonial Portugis-Spanyol yang datang sebelum Belanda dan Inggris. Belum kalau kita mencari perbendaharaan dari Cina.
|
|
Read more...
|
|
|
PCI NU Turki mengadakan Ngobrol plus Ngaji via Online |
|
|
|
|
Written by Administrator
|
|
Sunday, 28 April 2013 11:09 |
|
Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCI NU) Turki yang masih berusia dini, nampaknya mempunyai semangat yang sangat tinggi. Ini Nampak dari dalam setahun lebih beberapa bulan sejak kelahirannya, PCI NU Turki menyelenggarakan program-program bekualitas.
Setelah sukses mengadakan kajian online dua mingguan via radio online dengan tema “Semarak Ngaji Online”. Kini PCI NU Turki akan mengadakan program sejenis dengan tema-tema yang tak kalah asyik untuk dikaji dan dibingkai dalam obrolan-obrolan dengan tema besar “Ngobrol plus Ngaji Bareng PCINU Turki”.
“Sejatinya kita sering mengobrol di ruang maya dengan siapapun, namun alangkah lebih baik jika obrolan-obrolan santai tersebut mempunyai nilai mengaji untuk kita serap ilmunya.” Ujar Labib Syauqi, Rais Tanfidziyyah PCI NU Turki ketika menjelaskan maksud program ini.
|
|
Last Updated on Tuesday, 30 April 2013 00:03 |
|
Read more...
|
|
Written by Khifdi Ridho
|
|
Wednesday, 17 April 2013 14:39 |
|
(1)
Bukan masdar jadilah fiil Selamanya menjadi objek penderita Maka selamanya zaid memukul umar:Tanpa sadar Mewariskan dosa peribumi :Sejarah kelam akan timbul kembali Jika berjalan tampa isi kepala:mata harus menyentuh Mata NU harus lebih tajam dari kilatan pedang Membedah telinga zaman yang bingung
GUS…
Matanya takmelihat namun hatinya mendengar Tlinganya bisu namun tangannya peka Suarasuara ramai, solawat meredam amarah langit Masihkah pantas umat masih bertanya:mencari jawab di atas ?
|
|
Last Updated on Wednesday, 17 April 2013 14:45 |
|
Read more...
|
|
The Role of Social Media in Democracy Life: Indonesia's Experience |
|
|
|
|
Written by M. Sya'roni Rofii, PhD
|
|
Friday, 05 April 2013 20:22 |
|
Abstract
Nowadays Indonesia is enjoying a growing democracy. Public of Indonesia celebrate democracy with a number of development in the various fields, ranging from politics, the rule of law, and freedom of speech. Specifically on the issue of freedom of speech, the Indonesian government has repealed the previous Subversion Act which became an enemy for freedom of action (Press Law). Since the 1998 Reform Indonesia as a country reborn to respect democratic values and political elites realized the importance of playing in common rules of the game.
|
|
Last Updated on Friday, 05 April 2013 20:26 |
|
Read more...
|
|
|
|
|
<< Start < Prev 1 2 3 4 5 6 7 8 Next > End >>
|
|
Page 1 of 8 |